KOMODITAS
DAN KOMODIFIKASI
A.
SEJARAH
KOMODITAS DAN KOMODIFIKASI
Hubungan
antara kekuatan komersial atau produsen dengan masyarakat konsumen dalam pasar,
selain diperantarai melalui uang sebagai alat tukar, juga diperantarai melalui
komoditas. Pada awal sejarah
perkembangan manusia, orang pada waktu itu memproduksi barang-barang untuk
kebutuhan mereka sendiri. Sebuah keluarga
menanam tanaman untuk makanan mereka sendiri, kemudian merakit alat-alat yang
dibutuhkan. Tetapi, seiring dengan perkembangan masyarakat dan perubahan sosial
yang terjadi, orang mulai melakukan barter, saling tukar-menukar kelebihan
makanan dengan apa yang mereka butuhkan. Secara bertahap, pasar hadir sehingga
pertukaran menjadi lebih mudah dan uang digunakan sebagai media pertukaran.
Akhirnya orang memeproduksi barang bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk
dijual ke pasar. Hasilnya, pada masyarakat modern hal apapun berpotensi menjadi
komoditas, memiliki nilai moneter dan diperjual belikan, sehingga jangkauan
komodifikasipun meluas. Di masyarakat modern tidak ada kebutuhan manusia yang
tidak berkaitan dan tidak dipenuhi dari berbagai komoditas yang dihasilkan
kekuatan komersial dan para produsen produk-produk industry budaya.
B.
KOMODITAS
DAN KOMODIFIKASI
1.
Komoditas
Komoditas secara
sederhana didefinisikan sebagai hasil kerja manusia, entah dalam bentuk barang
atau jasa, yang sengaja diproduksi untuk dipertukarkan melalui mekanisme pasar.
Komoditas dalam wujudnya sebagai benda ataupun jasa umumnya diproduksi secara
massal, melayani kebutuhan konsumen, dan juga diproduksi secara berulang-ulang
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen yang menjadi target pasarnya. Komoditas
merepresentasikan bentuk simbolis dan material yang digunakan untuk memproduksi
tenaga kerja melalui konsumsi.
Aspek penting
dari komoditas adalah harus memiliki nilai guna (barang dan jasa memiliki
manfaat untuk memuaskan kebutuhan tertentu), harus bisa dipertukarkan dengan
barang atau jasa lain yang berbeda kegunaannya (nilai tukar), dan menyandang
harga pada dirinya. Harga sebuah komoditas tidak semata-mata ditentukan oleh
kadar manfaat. Untuk menakar berapa harga yang layak suatu komoditas, salah
satunya adalah ditentukan dari nilai tukar, terutama nilai tukar komoditas
dibandingkan dengan barang dan jasa lain yang ditawarkan di pasar. Contohnya
adalah sepiring makanan , meskipun merupakan salah satu kebutuhan pokok
masyarakat untuk kelangsungan hidup, belum tentu harganya lebih mahal dari tas
yang jika seorang tidak memiliki niscaya tidak akan terganggu atau terancam
kesehatan dan keselamatan hidupnya. Tas merek harganya bisa lebih mahal dari
makanan karena manfaat yang ditawarkan lebih ke gaya hidup berupa gengsi yang
bagi masyarakat post-modern sebagai sebuah kebutuhan hidup yang penting.
Dalam
kapitalisme industrial uang adalah media yang berperan sebagai alat beli dan
media yang memungkinkan masyarakat membeli dan mengkonsumsi berbagai komoditas.
Bagi konsumen, uang adalah media perantara yang mepermudah masyarakat untuk
menikmati dan mengkonsumsi berbagai komoditas yang dibutuhkan dan diinginkan
masyarakat. bagi produsen, lebih dari sekadar modal, uang adalah sebuah
capital. Pandangan Marxis, kedudukan komoditas tidak hanya berlaku dalam ranah pertukaran dan konsumsinya, tetapi juga
hubungan produksi, karena dalam konteks masyarakat kapitalis komoditas adalah
pengangkut material atau wujud fisik dari relasi kapitalis-eksploitasi,
keterasingan, dan penindasan kelas pekerja.
2.
Komodifikasi
Komodifikasi
adalah proses dimana semakin banyak aktifitas manusia yang memiliki nilai
moneter dan menjadi barang yang diperjual belikan di pasar. Komodifikasi
menjadikan sesuatu yang bukan komoditas kemudian seolah-olah menjadi komoditas
yang bisa diperjual-belikan demi laba. Contohnya seorang pelacur dikatakan
mengalami proses komodifikasi ketia ia-- sebagai manusia-- kemudian kemolekan
tubuhnya , alat kelaminnya, keperempuannya, dan ketidakberdayaannya
diperlakukan layaknya barang yang bisa diperjualbelikan dalam industry seksual
komersial. Seorang yang telah mengalami komodifikasi, harkatnya sebagai manusia
akan teredukasi dan ia makin tak berdaya karena harganya yang diekuivalen
dengan uang. Seseorang yang telah mem-booking
akan memperlakukannya seperti layaknya barang yang bisa ia mainkan.
C.
REIFIKASI
DAN FETISISME KOMODITAS
1.
Reifikasi
Reifikasi
adalah konsep yang digagas oleh Marx, kemudian dikembangkan oleh Georg Lukacs.
Dalam bukunya History and Class Consciouesness (1923), Lukas
memulai dengan konsep komoditas Marxian sebagai masalah sentral dan structural
masyarakat kapitalis. Reifikasi menurut Marx adalah teredukasinya hubungan
antarmanusia karena menjadi relasi alat reproduksi. Dalil dasar reifikasi adalah “penurunan”
nilai relasi manusia yang seharusnya personal dan akrab menjadi sekadar
hubungan antar “manusia” yang terjadi semata karena kepentingan ekonomi.
Dalam
istilah antropologi fetish adalah
objek material yang dipercaya mengandung kekuatan supranatural yang bisa
membantu atau melindungi pemiliknya. Dalam pandangan Lukacs, reifikasi terutama
mencul dalam lingkup masyarakat kapitalis yang di dalamnya barang-barang
kebutuhan hidup direproduksi untuk dipertukarkan, bukan digunakan langsung yang
menyembunyikan relasi-relasi sosial yang dilibatkan. Contoh orang mulai
menganggap pertukaran upah dengan kerja sebagai pertukaran barang daripada
sebuah relasi sosial antar orang (majikan-pekerja).
Secara
garis besar, ada dua pengertian Reifikasi dalam Outhwaite. Pertama dalam tradisi Marxis, istilah tersebut dipakai untuk
mendeskripsikan proses yang khas kapitalisme, dan proses itu berfungsi untuk
mempertahankan kesenjangan dalam masyarakat kapitalis dengan menyembunyikan
proses eksploitasi yang sesungguhnya. Kedua
dalam tradisi non-Marxis khususnya dalam pendekatan fenomenologi, refikasi
dijadikan sebagai ciri tak terhindarkan dari semua masyarakat, bagian
konstruksi realitas sosial dari realitas.
2.
Fetisisme
Fetisisme
(pemujaan mutlak) terhadap komoditas merupakan proses berfikir yang mengakui
komoditas dan pasar dalam masyarakat kapitalis sebagi objek yang keberadaannya
terlepas dari actor. Konsep Marx tentang fetisisme merupakan konsep dasar
reifikasi Lukacs. Fetisisme komoditas adalah proses dimana orang membayangkan
relasi sosialnya seakan-akan merupakan hal yang alami, padahal sesungguhnya
yang terjadi adalah fenomena rekonstruksi secara sosial. Fetitisme komoditas
Marx dan pengertian konsep reifikasi Lukacs berbeda pada keluasan kedua konsep.
Fetisisme Marx penerapannya (terbatas) pada lembaga ekonomi saja, atau
menempatkan ekonomi sebagai fetish
commodity yaitu pemujaan mutlk terhadap komoditas dan pasar. Lukacs
memperluas fetisisme terhadap seluruh masyarakat, negar, hokum, dan sector ekonomi.
Dengan berbasis pada hubungan individu, fetisisme bisa diterapkan pada semua
sector masyarakat kapitalis.
D.
PERUBAHAN
BENTUK KOMODITAS
Salah satu
perkembangan yang mencolok sejak pertumbuhan industrialisasi adalah
meningkatnya akselerasi pertumbuhan kegiatan ekonomi yang termasuk di dalamnya
kegiatan produksi berbagai komoditas yang dibutuhkan dan diinginkan masyarakat.
Menurut Marx (1973)
akomodasi perubahan bentuk komoditas oleh ranah konsumsi umumnya akan
melibatkan:
1. Ekspansi
kuantitatif konsumsi yang ada
2. Penciptaan
kebutuhan baru dengan mempropagandakan kebutuhan yang ada pada lingkaran yang
lebih luas
3. Produksi
kebutuhan dan penemuan baru serta penciptaan nilai guna
Bagi
pelaku ekonomi yang inovatif, mereka akan menggunakan dukungan modal yang kuat dan
dukungan iklan untuk menciptakan dan menawarkan kebutuhan baru dalam skala yang
lebih luas, yang seolah akan melahirkan masyarakat yang tidak pernah puas untuk
mengkonsumsi yang mereka butuhkan dan inginkan. Perubahan bentuk komoditas
lebih portable dan muncul berbagai variasi produk yang merupakan salah satu
cara yang sering dikembangkan kekuatan komersial untuk menggait massa pasar
yang luas.
Menurut
Martin J. Lee (2006) ada beberapa perubahan bentuk komoditas di era masyarakat
konsumsi kontemporer, diantaranya: (1) pembebasan konsumsi dari ranah spasial
dan temporal yang sebelumnya yang bersifat statis atau relative tidak
fleksibel; (2) kompresi temporer konsumsi yang ada; (3) miniaturisasi atau
kompresi komoditas modal; (4) komoditas campuran; (5) pertukaran terus menerus;
(6) transisi dari komoditas material menuju komoditas eksprensial; (7) kekunoan
estetis.
Dari
Fordisme ke Post-Fordisme
Ciri-ciri
fordisme (era modern) sebagaimana dikatakan Ritzer ( 2012: 512) secara garis
besar yaitu: (1) produksi massal produk-produk homogen; (2) penggunaan
teknologi- teknologi yang tidak luwes seperti lini perakitan; (3) penggunan
rutinitas kerja yang distandarkan; (4)
peningkatan produktivitas berasal dari ekonomi skala dan juga
penghilangan keahlian intensifikasi, dan homogenisasi tenaga kerja; (5)
munculnya tenaga pekerja masal dan serikat buruh yang dibirokratisasi; (6)
negoisasi oleh serikat buruh untuk upah yang seragam terkait erat dengan
peningkatan keuntungan dan produktivitas; (7) pertumbuhan suatu pasar untuk
produk- produk yang dihomogenkan dari industry produksi masal dan homogenisasi
pola konsumsi yang dihasilkan; (8) peningkatan upah disebabkan oleh unionisasi
menghasilkan permintaan semakin banyak akan penambahan persediaan produk-
produk yang diproduksi langsung; (9) suatu pasar untuk produk- produk yang
diatur oleh kebijakan makroekonomi Kaynesian dan pasar untuk tenaga kerja yang
ditangani oleh penanganan kolektif; (10) lembaga pendidikan masal yang
menyediakan massa pekerja yang dibutuhkan industri.
Ciri-
ciri yang menandai era post fordisme menurut Ritzer (2012:513), yaitu : (1)
kemunduran minat pada produk- produk masal disertai dengan pertumbuhan minat
pada produk- produk yang terspesialisasi (gaya dan kualitas tinggi); (2)
produk- produk yang lebih terspesialisasi memerlukan pelaksanaan produksi yang
lebih singkat menghasilkan sistem- sistem lebih kecil dan produktif; (3)
prroduksi yang lebih luwes diuntungkan dengan datangnya teknologi baru,
pelatihan yang lebih baik, tanggung jawab yang lebih banyak dan otonomi yang
lebih besar; (4) produksi harus dikendalikan melalui sistem yang lebih luwes;
(5) birokrasi raksasa yang tidak luwes perlu diganti secara dramatis agar dapat
beroperasi dengan lebih luwes; (6) serikat buruh yang birokratisasi (partai-
partai politik) tidak lagi mewakili kepentingan tenaga kerja baru yang
terdeferesiasi; (7) penawaran kolektif yang didesentralisasi menggantikan
negoisasi yang tersentralisasi; (8) pekerja semakin terdeferensiasi seperti
rakyat dan memerlukan komoditas gaya hidup penyaluran budaya yang lebih
terdeferensiasi; (9) negara kesejahteraan yang tersentralisasi tidak lagi
memenuhi kebutuhan (misalnya kesehatan, pendidikan, kesejahteraan) populasi
yang beragam, dan terdeferensiasi membutuhkan lembaga yang lebih fleksibel.
Dalam
rangka mencari keuntungan lebih, kekuatan kapitalis di era post-fordimse tidak
hanya mengandalkan ekspansi dan masifikasi komoditas, tetapi sudah lebih
berorientasi pada proses intensifikasi dan kemunculan inovasi baru yang
dibutuhkan dan diinginkan pasar. Contoh Stave Jacob, yang menemukan produk
Apple yang inovatif seperti Ipad, Ipod, dan computer tablet yang merupakan
salah satu metalogika pertumbuhan industry. Di era post-fordisme masyarakat
tidak lagi puas hanya dengan ketersediaan komoditas primer, karena ketika
refolusi informatika terjadi maka komoditas yang kemudian banyak dibutuhkan dan
diinginkan masyarakat adalah komoditas yang sifatnya non-fisik seperti data dan
informasi.
Dalam
mengejar pertumbuhan pangsa pasar, di era fordisme yang dikembangkan kapitalis
adalah melakukan ekspansi dan menjaga stabilisasi pasar baru yang dapat
memperluas jangkauan pangsa pasar berbagai produk dan jasa yang di hasilkan. Di
era post-fordisme upaya yang dikembangkan yaitu mendorong penetrasi lebih dalam
dari pasar yang sudah ada dan menciptakan kebutuhan baru melalui kompresi ruang
dan waktu konsumsi. Dan di era post-Industrial para pelaku ekonomi kini tidak
lagi dilibatkan proses pemasaran produk yang dihasilkan ke berbagai benua dan
komunitas karena telah didukung oleh teknologi informasi dan internet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar