Rabu, 11 November 2015



KOMODITAS DAN KOMODIFIKASI

A.    SEJARAH KOMODITAS DAN KOMODIFIKASI
Hubungan antara kekuatan komersial atau produsen dengan masyarakat konsumen dalam pasar, selain diperantarai melalui uang sebagai alat tukar, juga diperantarai melalui komoditas.  Pada awal sejarah perkembangan manusia, orang pada waktu itu memproduksi barang-barang untuk kebutuhan mereka sendiri.  Sebuah keluarga menanam tanaman untuk makanan mereka sendiri, kemudian merakit alat-alat yang dibutuhkan. Tetapi, seiring dengan perkembangan masyarakat dan perubahan sosial yang terjadi, orang mulai melakukan barter, saling tukar-menukar kelebihan makanan dengan apa yang mereka butuhkan. Secara bertahap, pasar hadir sehingga pertukaran menjadi lebih mudah dan uang digunakan sebagai media pertukaran. Akhirnya orang memeproduksi barang bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dijual ke pasar. Hasilnya, pada masyarakat modern hal apapun berpotensi menjadi komoditas, memiliki nilai moneter dan diperjual belikan, sehingga jangkauan komodifikasipun meluas. Di masyarakat modern tidak ada kebutuhan manusia yang tidak berkaitan dan tidak dipenuhi dari berbagai komoditas yang dihasilkan kekuatan komersial dan para produsen produk-produk industry budaya.
B.     KOMODITAS DAN KOMODIFIKASI
1.      Komoditas
Komoditas secara sederhana didefinisikan sebagai hasil kerja manusia, entah dalam bentuk barang atau jasa, yang sengaja diproduksi untuk dipertukarkan melalui mekanisme pasar. Komoditas dalam wujudnya sebagai benda ataupun jasa umumnya diproduksi secara massal, melayani kebutuhan konsumen, dan juga diproduksi secara berulang-ulang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen yang menjadi target pasarnya. Komoditas merepresentasikan bentuk simbolis dan material yang digunakan untuk memproduksi tenaga kerja melalui konsumsi.       
Aspek penting dari komoditas adalah harus memiliki nilai guna (barang dan jasa memiliki manfaat untuk memuaskan kebutuhan tertentu), harus bisa dipertukarkan dengan barang atau jasa lain yang berbeda kegunaannya (nilai tukar), dan menyandang harga pada dirinya. Harga sebuah komoditas tidak semata-mata ditentukan oleh kadar manfaat. Untuk menakar berapa harga yang layak suatu komoditas, salah satunya adalah ditentukan dari nilai tukar, terutama nilai tukar komoditas dibandingkan dengan barang dan jasa lain yang ditawarkan di pasar. Contohnya adalah sepiring makanan , meskipun merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat untuk kelangsungan hidup, belum tentu harganya lebih mahal dari tas yang jika seorang tidak memiliki niscaya tidak akan terganggu atau terancam kesehatan dan keselamatan hidupnya. Tas merek harganya bisa lebih mahal dari makanan karena manfaat yang ditawarkan lebih ke gaya hidup berupa gengsi yang bagi masyarakat post-modern sebagai sebuah kebutuhan hidup yang penting.
Dalam kapitalisme industrial uang adalah media yang berperan sebagai alat beli dan media yang memungkinkan masyarakat membeli dan mengkonsumsi berbagai komoditas. Bagi konsumen, uang adalah media perantara yang mepermudah masyarakat untuk menikmati dan mengkonsumsi berbagai komoditas yang dibutuhkan dan diinginkan masyarakat. bagi produsen, lebih dari sekadar modal, uang adalah sebuah capital. Pandangan Marxis, kedudukan komoditas tidak hanya berlaku dalam  ranah pertukaran dan konsumsinya, tetapi juga hubungan produksi, karena dalam konteks masyarakat kapitalis komoditas adalah pengangkut material atau wujud fisik dari relasi kapitalis-eksploitasi, keterasingan, dan penindasan kelas pekerja.
2.      Komodifikasi
Komodifikasi adalah proses dimana semakin banyak aktifitas manusia yang memiliki nilai moneter dan menjadi barang yang diperjual belikan di pasar. Komodifikasi menjadikan sesuatu yang bukan komoditas kemudian seolah-olah menjadi komoditas yang bisa diperjual-belikan demi laba. Contohnya seorang pelacur dikatakan mengalami proses komodifikasi ketia ia-- sebagai manusia-- kemudian kemolekan tubuhnya , alat kelaminnya, keperempuannya, dan ketidakberdayaannya diperlakukan layaknya barang yang bisa diperjualbelikan dalam industry seksual komersial. Seorang yang telah mengalami komodifikasi, harkatnya sebagai manusia akan teredukasi dan ia makin tak berdaya karena harganya yang diekuivalen dengan uang. Seseorang yang telah mem-booking akan memperlakukannya seperti layaknya barang yang bisa ia mainkan.
C.    REIFIKASI DAN FETISISME KOMODITAS
1.      Reifikasi
Reifikasi adalah konsep yang digagas oleh Marx, kemudian dikembangkan oleh Georg Lukacs. Dalam bukunya History  and Class Consciouesness (1923), Lukas memulai dengan konsep komoditas Marxian sebagai masalah sentral dan structural masyarakat kapitalis. Reifikasi menurut Marx adalah teredukasinya hubungan antarmanusia karena menjadi relasi alat reproduksi.  Dalil dasar reifikasi adalah “penurunan” nilai relasi manusia yang seharusnya personal dan akrab menjadi sekadar hubungan antar “manusia” yang terjadi semata karena kepentingan ekonomi.
Dalam istilah antropologi fetish adalah objek material yang dipercaya mengandung kekuatan supranatural yang bisa membantu atau melindungi pemiliknya. Dalam pandangan Lukacs, reifikasi terutama mencul dalam lingkup masyarakat kapitalis yang di dalamnya barang-barang kebutuhan hidup direproduksi untuk dipertukarkan, bukan digunakan langsung yang menyembunyikan relasi-relasi sosial yang dilibatkan. Contoh orang mulai menganggap pertukaran upah dengan kerja sebagai pertukaran barang daripada sebuah relasi sosial antar orang (majikan-pekerja).
Secara garis besar, ada dua pengertian Reifikasi dalam Outhwaite. Pertama dalam tradisi Marxis, istilah tersebut dipakai untuk mendeskripsikan proses yang khas kapitalisme, dan proses itu berfungsi untuk mempertahankan kesenjangan dalam masyarakat kapitalis dengan menyembunyikan proses eksploitasi yang sesungguhnya. Kedua dalam tradisi non-Marxis khususnya dalam pendekatan fenomenologi, refikasi dijadikan sebagai ciri tak terhindarkan dari semua masyarakat, bagian konstruksi realitas sosial dari realitas.
2.        Fetisisme
Fetisisme (pemujaan mutlak) terhadap komoditas merupakan proses berfikir yang mengakui komoditas dan pasar dalam masyarakat kapitalis sebagi objek yang keberadaannya terlepas dari actor. Konsep Marx tentang fetisisme merupakan konsep dasar reifikasi Lukacs. Fetisisme komoditas adalah proses dimana orang membayangkan relasi sosialnya seakan-akan merupakan hal yang alami, padahal sesungguhnya yang terjadi adalah fenomena rekonstruksi secara sosial. Fetitisme komoditas Marx dan pengertian konsep reifikasi Lukacs berbeda pada keluasan kedua konsep. Fetisisme Marx penerapannya (terbatas) pada lembaga ekonomi saja, atau menempatkan ekonomi sebagai fetish commodity yaitu pemujaan mutlk terhadap komoditas dan pasar. Lukacs memperluas fetisisme terhadap seluruh masyarakat, negar, hokum, dan sector ekonomi. Dengan berbasis pada hubungan individu, fetisisme bisa diterapkan pada semua sector masyarakat kapitalis.

D.    PERUBAHAN BENTUK KOMODITAS
Salah satu perkembangan yang mencolok sejak pertumbuhan industrialisasi adalah meningkatnya akselerasi pertumbuhan kegiatan ekonomi yang termasuk di dalamnya kegiatan produksi berbagai komoditas yang dibutuhkan dan diinginkan masyarakat.
Menurut Marx (1973) akomodasi perubahan bentuk komoditas oleh ranah konsumsi umumnya akan melibatkan:
1.      Ekspansi kuantitatif konsumsi yang ada
2.      Penciptaan kebutuhan baru dengan mempropagandakan kebutuhan yang ada pada lingkaran yang lebih luas
3.      Produksi kebutuhan dan penemuan baru serta penciptaan nilai guna
Bagi pelaku ekonomi yang inovatif, mereka akan menggunakan dukungan modal yang kuat dan dukungan iklan untuk menciptakan dan menawarkan kebutuhan baru dalam skala yang lebih luas, yang seolah akan melahirkan masyarakat yang tidak pernah puas untuk mengkonsumsi yang mereka butuhkan dan inginkan. Perubahan bentuk komoditas lebih portable dan muncul berbagai variasi produk yang merupakan salah satu cara yang sering dikembangkan kekuatan komersial untuk menggait massa pasar yang luas.
Menurut Martin J. Lee (2006) ada beberapa perubahan bentuk komoditas di era masyarakat konsumsi kontemporer, diantaranya: (1) pembebasan konsumsi dari ranah spasial dan temporal yang sebelumnya yang bersifat statis atau relative tidak fleksibel; (2) kompresi temporer konsumsi yang ada; (3) miniaturisasi atau kompresi komoditas modal; (4) komoditas campuran; (5) pertukaran terus menerus; (6) transisi dari komoditas material menuju komoditas eksprensial; (7) kekunoan estetis.
Dari Fordisme  ke Post-Fordisme
            Ciri-ciri fordisme (era modern) sebagaimana dikatakan Ritzer ( 2012: 512) secara garis besar yaitu: (1) produksi massal produk-produk homogen; (2) penggunaan teknologi- teknologi yang tidak luwes seperti lini perakitan; (3) penggunan rutinitas kerja yang distandarkan; (4)  peningkatan produktivitas berasal dari ekonomi skala dan juga penghilangan keahlian intensifikasi, dan homogenisasi tenaga kerja; (5) munculnya tenaga pekerja masal dan serikat buruh yang dibirokratisasi; (6) negoisasi oleh serikat buruh untuk upah yang seragam terkait erat dengan peningkatan keuntungan dan produktivitas; (7) pertumbuhan suatu pasar untuk produk- produk yang dihomogenkan dari industry produksi masal dan homogenisasi pola konsumsi yang dihasilkan; (8) peningkatan upah disebabkan oleh unionisasi menghasilkan permintaan semakin banyak akan penambahan persediaan produk- produk yang diproduksi langsung; (9) suatu pasar untuk produk- produk yang diatur oleh kebijakan makroekonomi Kaynesian dan pasar untuk tenaga kerja yang ditangani oleh penanganan kolektif; (10) lembaga pendidikan masal yang menyediakan massa pekerja yang dibutuhkan industri.
            Ciri- ciri yang menandai era post fordisme menurut Ritzer (2012:513), yaitu : (1) kemunduran minat pada produk- produk masal disertai dengan pertumbuhan minat pada produk- produk yang terspesialisasi (gaya dan kualitas tinggi); (2) produk- produk yang lebih terspesialisasi memerlukan pelaksanaan produksi yang lebih singkat menghasilkan sistem- sistem lebih kecil dan produktif; (3) prroduksi yang lebih luwes diuntungkan dengan datangnya teknologi baru, pelatihan yang lebih baik, tanggung jawab yang lebih banyak dan otonomi yang lebih besar; (4) produksi harus dikendalikan melalui sistem yang lebih luwes; (5) birokrasi raksasa yang tidak luwes perlu diganti secara dramatis agar dapat beroperasi dengan lebih luwes; (6) serikat buruh yang birokratisasi (partai- partai politik) tidak lagi mewakili kepentingan tenaga kerja baru yang terdeferesiasi; (7) penawaran kolektif yang didesentralisasi menggantikan negoisasi yang tersentralisasi; (8) pekerja semakin terdeferensiasi seperti rakyat dan memerlukan komoditas gaya hidup penyaluran budaya yang lebih terdeferensiasi; (9) negara kesejahteraan yang tersentralisasi tidak lagi memenuhi kebutuhan (misalnya kesehatan, pendidikan, kesejahteraan) populasi yang beragam, dan terdeferensiasi membutuhkan lembaga yang lebih fleksibel.
            Dalam rangka mencari keuntungan lebih, kekuatan kapitalis di era post-fordimse tidak hanya mengandalkan ekspansi dan masifikasi komoditas, tetapi sudah lebih berorientasi pada proses intensifikasi dan kemunculan inovasi baru yang dibutuhkan dan diinginkan pasar. Contoh Stave Jacob, yang menemukan produk Apple yang inovatif seperti Ipad, Ipod, dan computer tablet yang merupakan salah satu metalogika pertumbuhan industry. Di era post-fordisme masyarakat tidak lagi puas hanya dengan ketersediaan komoditas primer, karena ketika refolusi informatika terjadi maka komoditas yang kemudian banyak dibutuhkan dan diinginkan masyarakat adalah komoditas yang sifatnya non-fisik seperti data dan informasi.
            Dalam mengejar pertumbuhan pangsa pasar, di era fordisme yang dikembangkan kapitalis adalah melakukan ekspansi dan menjaga stabilisasi pasar baru yang dapat memperluas jangkauan pangsa pasar berbagai produk dan jasa yang di hasilkan. Di era post-fordisme upaya yang dikembangkan yaitu mendorong penetrasi lebih dalam dari pasar yang sudah ada dan menciptakan kebutuhan baru melalui kompresi ruang dan waktu konsumsi. Dan di era post-Industrial para pelaku ekonomi kini tidak lagi dilibatkan proses pemasaran produk yang dihasilkan ke berbagai benua dan komunitas karena telah didukung oleh teknologi informasi dan internet
           




Tidak ada komentar:

Posting Komentar