Pendekatan Formatif
Pendekatan formatif adalah
dalil mengenai gejala ekonomi sebagai fungsi dari kelangkaan sumber daya,
tujuan ekonomi bersifat tidak terbatas, ekonomi merupakan suatu pilihan
ekonomis dari sejumlah sumber daya yang terbatas untuk memenuhi tujuan
(kebutuhan) yang tidak terbatas, berlakunya hukum permintaan dan penawaran
dalam proses alokasi barang dan jasa di pasar, berlakunya hukum law of
dimishing returndalam proses produksi.
Pendekatan yang sangatlah
ekonomis, namun antropologi menempatkan diri pada pengembangan ilmu ekonomi
untuk memahami gejala-gejala yang lebih luas dalam perekonomian primitive dan
peasant, antropologi ekonomi sebagai pendekatan hubungan-hubungan sosial
tentang pemanfaatan sumber daya ekonomi. , untuk mencapai pemahaman yang akurat
tentang keberagaman dan kompleksitas tingkah laku sosial yang diobservasi,
bersifat anhistoris, walaupun bukan anti-historis atau sinkronik, meskipun
pendekatan ini bersifat analitisaa dan formala dalam orientasinya, tetapi
memiliki kecenderungan yang kuat dalam menerapkan prinsip-prinsip abstraksi
umum.
Prinsip kerja dari pendekatan
formatif dalam melihat ekonomi primitif dan peasant adalah sama-sama memakai
mekanisme dan prinsip ekonomi yang fungsinya sama. Kesamaan pola antara ekonomi
primitif dan peasant menjadi pendekatan formatif ditandai oleh munculnya
teknik-teknik pengumpulan data kuantitatif sehingga memungkinkan peneliti bisa
menarik kesimpulan bahwa teori ilmu ekonomi klasik bisa untuk menjelaskan
fenomena dalam masyarakat sederhana
Diakui bahwa pendekatan
formatif adalah pendekatan pertama kali di antropologi ekonomi. Namun
pendekatan ini memiliki kelemahan dalam pengujian lapangan. Pengujian yang
dilakukan sangatlah bersifat eropa-sentris (berpandanagn eropa). Perbedaan sistem
antara ekonomi sederhana dengan modern sangatlah menyolok. Jadi pendekatan
formatif tidak bisa menerangkan mengenai kegagalan perkembangan ekonomi di
negara berkembang.
Pendekatan Formatif
Pendekatan formatif
adalah dalil mengenai gejala ekonomi sebagai fungsi dari kelangkaan sumber
daya, tujuan ekonomi bersifat tidak terbatas, ekonomi merupakan suatu pilihan
ekonomis dari sejumlah sumber daya yang terbatas untuk memenuhi tujuan
(kebutuhan) yang tidak terbatas, berlakunya hukum permintaan dan penawaran
dalam proses alokasi barang dan jasa di pasar, berlakunya hukum law of
dimishing return dalam proses produksi.
Pendekatan yang
sangatlah ekonomis, namun antropologi menempatkan diri pada pengembangan ilmu
ekonomi untuk memahami gejala-gejala yang lebih luas dalam perekonomian
primitive dan peasant, antropologi ekonomi sebagai pendekatan hubungan-hubungan
sosial tentang pemanfaatan sumber daya ekonomi. , untuk mencapai pemahaman yang
akurat tentang keberagaman dan kompleksitas tingkah laku sosial yang
diobservasi, bersifat anhistoris, walaupun bukan anti-historis atau sinkronik,
meskipun pendekatan ini bersifat analitisaa dan formala dalam orientasinya,
tetapi memiliki kecenderungan yang kuat dalam menerapkan prinsip-prinsip
abstraksi umum.
Prinsip kerja dari
pendekatan formatif dalam melihat ekonomi primitif dan peasant adalah sama-sama
memakai mekanisme dan prinsip ekonomi yang fungsinya sama. Kesamaan pola antara
ekonomi primitif dan peasant menjadi pendekatan formatif ditandai oleh
munculnya teknik-teknik pengumpulan data kuantitatif sehingga memungkinkan
peneliti bisa menarik kesimpulan bahwa teori ilmu ekonomi klasik bisa untuk
menjelaskan fenomena dalam masyarakat sederhana.
Diakui bahwa pendekatan
formatif adalah pendekatan pertama kali di antropologi ekonomi. Namun
pendekatan ini memiliki kelemahan dalam pengujian lapangan. Pengujian yang
dilakukan sangatlah bersifat eropa-sentris (berpandanagn eropa). Perbedaan
sistem antara ekonomi sederhana dengan modern sangatlah menyolok. Jadi
pendekatan formatif tidak bisa menerangkan mengenai kegagalan perkembangan
ekonomi di negara berkembang.
Secara konvensional ilmu ekonomi mengasumsikan bahwa tindakan manusia bersifat rasional dalam melakukan aktivitas ekonomi tersebut. Cook melihat ada enam ciri umum yang membedakan pendekatan formalis dan substantif:
Secara konvensional ilmu ekonomi mengasumsikan bahwa tindakan manusia bersifat rasional dalam melakukan aktivitas ekonomi tersebut. Cook melihat ada enam ciri umum yang membedakan pendekatan formalis dan substantif:
1. Pendekatan
formalis terkesan dengan kesuksesan ilmu ekonomi neo-klasik dalam merumuskan
hukum-hukum ekonomi untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku ekonomi
masyarakat Eropa dan luar Eropa pada abad 19 dan 20 yang menggunakan sistem
ekonomi pasar.
Hukum-hukum ekonomi
menarik perhatian ahli antropologi yang menganut pendekatan formalis, yaitu
v Dalil
mengenai gejala ekonomi sebagai fungsi dari kelangkaan sumber daya;
v Tujuan
ekonomi bersifat tidak terbatas;
v Ekonomi
merupakan suatu pilihan yang ekonomis dari sejumlah sumber daya yang terbatas
untuk memenuhi tujuan yang tidak terbatas;
v Berlakunya
hukum permintaan dan penawaran dalam proses alokasi barang dan jasa di pasar;
v Berlakunya
hukum law of diminishing return dalam proses produksi
2. Pendekatan
formalis menempatkan antropologi ekonomi sebagai studi tentang
hubungan-hubungan sosial tentang proses pemanfaatan sumber daya ekonomi.
Pendekatan ini menentukan antropologi ekonomi sebagai usaha untuk
mendiskripsikan dan menganalisis cara-cara proses pemanfaatan sumber daya
ekonomi tersebut dalam berbagai setting kultural.
3. Tujuan
pendekatan formalis ini adalah umtuk mencapai pemahaman yang akurat tentang
keragaman dan kompleksitas tingkah laku sosial yang diobservasi. Pendekatan ini
cenderung mengkonstruksi model-model yang bersifat memprediksi tingkah laku
yang akan terjadi dalam berbagai seting kultural.
4. Para
penganut aliran ini pada dasarnya bersifat historis. Peneliti tidak akan
memperoleh pemahaman yang mendalam tentang proses perkembangan sistem ekonomi.
Pemahaman yang mendalam tersebut akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang
kurang kuat untuk meramalkan fenomena yang akan terjadi.
5. Meskipun
pendekatan ini bersifat analitis dan formal dalam orientasinya, tetapi
mempunyai kecenderungan yang kuat dalam menerapkan prinsip-prinsip abtraksi
umum (logika deduktif) untuk menganalisis tingkah laku ekonomi pada berbagai
setting cultural yang berbeda
6. Aliran
ini melihat gejala ekonomi pada tingkah laku individu dan motif-motif yang
mendorong tingkah laku tersebut, sehingga perekonomian dilihat sebagai kumpulan
dari pelaku-pelaku, tingkah laku dan motif-motifnya. Karakteristik ini Nampak
dari pemikiran pospisil dan burling yang tidak memandang ekonomi sebagai
rangkaian dari aturan organisasi social, tetapi sebagai tingkah laku
individu-individu dengan motif-motif subjektif mereka. Dengan demikian
keberadaan sistem ekomoni tergantung atas interaksi antar individu, individu
yang menentukan sistem ekonomi.
2. Berbagai sudut
pandangan penganut pendekatan formalis
Firth menyarankan kepada ahli antropologi untuk menerapkan konsep-konsep ilmu ekonomi untuk mengkaji sistem ekonomi sederhana dan mempelajari tingkah laku individu dalam situasi dimana ia memainkan peran sosial dan berinterakasi dengan sesana kelompok dalam masyarakat. Herskovits menyimpulkan bahwa semua sistem ekonomi mengenal prinsip ekonomiyang sama meskipun wujusnya berbeda-beda, dan prinsip tersebutdalam masyarakat sederhana tidak sekuat dibandingkan dengan masyarakat modern. Porpisil mengatakan bahwa sistem ekonomi orang Kapauku sama dengan sistem ekonomi orang Barat. Wiraswastawan memiliki ciri yang berorientasi untuk melipatgandakan kekeyaan dan motif ini terdapat pada masyarakat Eropa maupun Kapauku yang tergantung dari kemampuan menjalin hubungan jaringan sosial. Manning Nash menerima bahwa tingkah laku memilih dan tingkah laku mencari keuntungan bersifat uniniversal sehingga ia dapat menerima bahwa teori ekonomi neo-klasik dapat diterapkan pada setiap masyarakat. Ia menyimpulkan bahwa proses pengambilan keputusan untuk memilih dalam masyarakat sederhana sangat dikondisikan oleh struktur sosial. Analisis tentang tingkah laku ekonomi dapat dikerjakan dengan cara menyimak serangkaian organisasi sosial dan norma-norma yang menjebatani pilihan-pilihan ekonomi. Ia menekankan bahwa terdapat universalitas gejala ekonomi tetapi dalam mengaji gejala ekonomi, antropologi jengan meniru ahli ekonomi yang langsung mereduksi fakta-fakta empiris ke dalam konsep-konsep ilmu ekonomi formal.
Pilihan ekonomi yang rasional dalam masyarakat petani mengikuti aturan umum pemaksimalan yang sama dengan aktivitas ekonomi dimana saja dan kapan saja tetapu dilain pihak menekankan bahwa studi aturan ekonomi-ekonomi petani tidak perlu dikurung dalam bahasa abstrak analisis ekonomi formal tidak harus kehilangan keuntungan dalam skala kecil dengan mengikuti trend untuk menghargai konsrtuksi pada level model kerangka, universal, dalam ruang dan waktu, untuk keuntungan manipulasi yang luwes, mudah dan meragukan.
Gagasan Nash didukung oleh Cook dan menyatakan bahwa antropologi ekonomi harus mencoba untuk mengkontekstualisasikan fakta-fakta ekonomi dan aktivitas-aktivitas ekonomi terhadap aspek-aspek lain dari sistem sosio-kultural. Berdasarkan hasil penelitian di Ocaxaca, Cook melihat bahwa harga merupakan variabel penting yang menentukan tingkat produksi batu penggiling.
Epstein memperlihatkan bahwa keberadaan pendekatan formalis yang kuat untuk mengkaji masalah-masalah dalam perekonomian primitif, karena pendekatan ini mampu menunjukkan metode analisis ekonomi sesuai dengan data di lapangan. Ia menawarkan bagaimana data tentang aktivitas produksi dikumpulkan dan dianalisis dengan memakai data alikasi waktu untuk menguji konsep ekonomi dalam perekonomian petani.
Alice Dawey mengungkapkan bahwa pasar di Jawa dalam masyarakat agraris merupakan komunitas pedagang yang mempunyai karakteristik kompetitif. Pasar sebagai jaringan sosial dimana anggota-anggotanya membentuk ikatan-ikatan berasas guna dalam seting kulturas setempat. Perkembangan pendekatan formalis ditandai oleh munculnya teknik-teknik pengumpulan data kualitatis sehingga memungkinkan peneliti bisa menarik kesimpulan bahwa teori ekonomi klasik bisa dipakai untuk menjalaskan fenomena ekonomi dalam masyarakat sederhana. Barlett berdasarkan penelitian di India mengungkapkan bahwa petani India mempunyai sistem kalkulasi input-output yang reliabilitasnya relatif sebanding dengan kalkulasi yang dipakai peneliti.
M. J. Herskovits mengkaji masalah akulturasi dan masalah-masalah perubahan kebudayaan pada umumnya. A. Richards meneliti suku bangsa Bemba di Zimbabwe, Afrika Selatan. Penelitian itu mengenai produksi bercocok tanam dalam berbagai musim, pemasaran hasil pertanian, ekonomi, rumah tangga, pemakaian tanah, upacara-upacara penghormatan nenek moyang, yang diuraikan dalam sistem adat istiadat perkawinan dan warisan.
L. Pospisil mengkaji sistem mata pencaharian suku Kapauku di Irian Jaya, yaitu: berladang; beternak babi; menangkap ikan, berburu dan meramu; dan pertukangan, teknologi produksi, organisasi tenaga kerja, distribusi dan konsumsi. Suku Kapauku mempunyai uang tradisional berupa kerang yang dimanipulasi dalam perkumpulan simpan pinjam (tapa) untuk menaikkan gengsi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa jiwa dagang dan keberanian untuk mengambil resiko juga dalam mentalitas orang Kapauku yang tidak hanya menyangkut uang dan benda-benda simbolik seperti kerang-kerang dan kalung yang terbuat dari kerang saja, tetapi menyangkut komoditi yang lebih konkret yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, yaitu babi.
3. Kritik terhadap pendekatan formalis
Kelemahan pendekatan formalis terletak pada pengujian di lapangan yang tidak memberi jawaban mengapa banyak kegagalan pembangunan ekonomi di negara bekembang dan terjadinya penyimpangan arah pengembangan ekonomi. Ia mengabaikan dimensi sejarah perkembangan ekonomi.
Firth menyarankan kepada ahli antropologi untuk menerapkan konsep-konsep ilmu ekonomi untuk mengkaji sistem ekonomi sederhana dan mempelajari tingkah laku individu dalam situasi dimana ia memainkan peran sosial dan berinterakasi dengan sesana kelompok dalam masyarakat. Herskovits menyimpulkan bahwa semua sistem ekonomi mengenal prinsip ekonomiyang sama meskipun wujusnya berbeda-beda, dan prinsip tersebutdalam masyarakat sederhana tidak sekuat dibandingkan dengan masyarakat modern. Porpisil mengatakan bahwa sistem ekonomi orang Kapauku sama dengan sistem ekonomi orang Barat. Wiraswastawan memiliki ciri yang berorientasi untuk melipatgandakan kekeyaan dan motif ini terdapat pada masyarakat Eropa maupun Kapauku yang tergantung dari kemampuan menjalin hubungan jaringan sosial. Manning Nash menerima bahwa tingkah laku memilih dan tingkah laku mencari keuntungan bersifat uniniversal sehingga ia dapat menerima bahwa teori ekonomi neo-klasik dapat diterapkan pada setiap masyarakat. Ia menyimpulkan bahwa proses pengambilan keputusan untuk memilih dalam masyarakat sederhana sangat dikondisikan oleh struktur sosial. Analisis tentang tingkah laku ekonomi dapat dikerjakan dengan cara menyimak serangkaian organisasi sosial dan norma-norma yang menjebatani pilihan-pilihan ekonomi. Ia menekankan bahwa terdapat universalitas gejala ekonomi tetapi dalam mengaji gejala ekonomi, antropologi jengan meniru ahli ekonomi yang langsung mereduksi fakta-fakta empiris ke dalam konsep-konsep ilmu ekonomi formal.
Pilihan ekonomi yang rasional dalam masyarakat petani mengikuti aturan umum pemaksimalan yang sama dengan aktivitas ekonomi dimana saja dan kapan saja tetapu dilain pihak menekankan bahwa studi aturan ekonomi-ekonomi petani tidak perlu dikurung dalam bahasa abstrak analisis ekonomi formal tidak harus kehilangan keuntungan dalam skala kecil dengan mengikuti trend untuk menghargai konsrtuksi pada level model kerangka, universal, dalam ruang dan waktu, untuk keuntungan manipulasi yang luwes, mudah dan meragukan.
Gagasan Nash didukung oleh Cook dan menyatakan bahwa antropologi ekonomi harus mencoba untuk mengkontekstualisasikan fakta-fakta ekonomi dan aktivitas-aktivitas ekonomi terhadap aspek-aspek lain dari sistem sosio-kultural. Berdasarkan hasil penelitian di Ocaxaca, Cook melihat bahwa harga merupakan variabel penting yang menentukan tingkat produksi batu penggiling.
Epstein memperlihatkan bahwa keberadaan pendekatan formalis yang kuat untuk mengkaji masalah-masalah dalam perekonomian primitif, karena pendekatan ini mampu menunjukkan metode analisis ekonomi sesuai dengan data di lapangan. Ia menawarkan bagaimana data tentang aktivitas produksi dikumpulkan dan dianalisis dengan memakai data alikasi waktu untuk menguji konsep ekonomi dalam perekonomian petani.
Alice Dawey mengungkapkan bahwa pasar di Jawa dalam masyarakat agraris merupakan komunitas pedagang yang mempunyai karakteristik kompetitif. Pasar sebagai jaringan sosial dimana anggota-anggotanya membentuk ikatan-ikatan berasas guna dalam seting kulturas setempat. Perkembangan pendekatan formalis ditandai oleh munculnya teknik-teknik pengumpulan data kualitatis sehingga memungkinkan peneliti bisa menarik kesimpulan bahwa teori ekonomi klasik bisa dipakai untuk menjalaskan fenomena ekonomi dalam masyarakat sederhana. Barlett berdasarkan penelitian di India mengungkapkan bahwa petani India mempunyai sistem kalkulasi input-output yang reliabilitasnya relatif sebanding dengan kalkulasi yang dipakai peneliti.
M. J. Herskovits mengkaji masalah akulturasi dan masalah-masalah perubahan kebudayaan pada umumnya. A. Richards meneliti suku bangsa Bemba di Zimbabwe, Afrika Selatan. Penelitian itu mengenai produksi bercocok tanam dalam berbagai musim, pemasaran hasil pertanian, ekonomi, rumah tangga, pemakaian tanah, upacara-upacara penghormatan nenek moyang, yang diuraikan dalam sistem adat istiadat perkawinan dan warisan.
L. Pospisil mengkaji sistem mata pencaharian suku Kapauku di Irian Jaya, yaitu: berladang; beternak babi; menangkap ikan, berburu dan meramu; dan pertukangan, teknologi produksi, organisasi tenaga kerja, distribusi dan konsumsi. Suku Kapauku mempunyai uang tradisional berupa kerang yang dimanipulasi dalam perkumpulan simpan pinjam (tapa) untuk menaikkan gengsi sosial. Hal ini menunjukkan bahwa jiwa dagang dan keberanian untuk mengambil resiko juga dalam mentalitas orang Kapauku yang tidak hanya menyangkut uang dan benda-benda simbolik seperti kerang-kerang dan kalung yang terbuat dari kerang saja, tetapi menyangkut komoditi yang lebih konkret yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, yaitu babi.
3. Kritik terhadap pendekatan formalis
Kelemahan pendekatan formalis terletak pada pengujian di lapangan yang tidak memberi jawaban mengapa banyak kegagalan pembangunan ekonomi di negara bekembang dan terjadinya penyimpangan arah pengembangan ekonomi. Ia mengabaikan dimensi sejarah perkembangan ekonomi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar